14 Rekomendasi Film yang Bikin Lelaki Menangis


Pada postingan kali ini saya - untuk pertama kalinya - mengajak sejumlah orang untuk berkontribusi menulis di blog ini. Sebenarnya ini proyek iseng-iseng aja sih, karena belakangan kesibukan saya menjadi emak-emak membuat saya hampir ga punya waktu untuk nulis blog lagi. Karena itulah saya mengajak followers instagram nikenbicarafilm untuk semacam kolaborasi (lebih tepatnya saya yang "memanfaatkan" mereka sih), untuk menuliskan rekomendasi film dari tema yang saya pilih. Di luar dugaan animonya lumayan rame (ini sungguh bikin saya terharu *hiks). Pada postingan review kolaborasi pertama ini, temanya adalah: "Film yang Bikin Lelaki Menangis". Isi tulisan sebagian besar dibuat oleh para lelaki yang ternyata bisa menangis ini (seriously, kita harus menormalisasi bahwa lelaki menangis itu biasa saja dan wajar), saya cuma mengeditnya sedikit ~ 

#1

A.I. (Artificial Intelligence)

(Steven Spielberg, 2001)


A.I bercerita tentang petualangan David, seorang robotic boy, yang berjuang untuk menjadi anak manusia demi mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Ini adalah dongeng pinokio versi modern di dunia masa depan. Adegan yang membuat saya banjir air mata adalah ketika David akhirnya harus menerima kenyaatan pahit yang sesungguhnya, dimana ia harus berpisah dengan ibu yang sangat dicintainya. Diperankan dengan sangat apik oleh Haley Joel Osment sebagai robot (perhatikan di sepanjang film dia tak berkedip). Submitted by Novian Eko (42). Suka nonton film sebelum tidur. Director fav: Zack Snyder. Temui ia di Quora. 

#2

5 Centimeters per Second (Byosoku Go Senchimetoru)

(Makoto Shinkai, 2007)


5 Centimeters per Second (Byosoku Go Senchimetoru) hanya berdurasi satu jam lebih sedikit, tapi luka yang ditinggalkannya menganga selama lebih dari ratusan kali durasi filmnya. Ceritanya tentang cinta masa kecil yang ternyata, bagi beberapa orang, mengena terlalu dalam dan susah untuk dilupakan bahkan sampai satu dekade berlalu. Perpisahan dan perasaan yang tak pernah terucap adalah resep mujarab untuk penyesalan. Melalui tema itulah, Makoto Shinkai menghadirkan animasi hyper-realistic —yang akhirnya menjadi ciri khasnya— dalam melodrama yang sebenarnya nyaris tanpa jalinan plot yang komprehensif ini. Bagi yang pernah merasakannya, bagian terakhir dari film ini menjadi sangat pedih. Sembari merenungi kisah yang tak pernah terjadi, sang tokoh utama dan cinta masa lalunya bersatu dalam sebuah dual narration —diiringi “One more time, one more chance” dari Masayoshi Yamazaki yang liriknya menambah perih duka. Awalnya hanya perasaan berdesir yang terasa di dada, ketika lagu berakhir dan adegan di persimpangan kereta berakhir, tak terasa air mata sudah sampai di ujung muka. Tandas rasanya. Submitted by Paskalis Damar (28). Meracau di Twitter-nya @sinekdoks dan menulis opini tentang film di sinekdoks.com. Director fav: Terlalu banyak untuk disebutkan. 
 
#3
Capernaum 

(Nadine Labaki, 2018)



Diantara banyak film yang telah saya tonton, Capernaum masuk ke kategori film yang berhasil membuat saya menangis sebanjir-banjirnya. Capernaum mengajak kita berempati kepada seorang anak bernama Zayn, yang tumbuh dari keluarga tak layak, yang harus bekerja keras bahkan di umurnya yang masih sangat belia. Ia dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan pahit yang dialami keluarganya, hingga memutuskan untuk kabur dan tinggal di jalanan. Capernaum menampar kita dengan kenyataan bagaimana menderitanya seorang anak yg tumbuh dari keluarga yang tidak pantas. Penderitaan seorang anak yang orang tuanya tidak layak untuk memilikinya. Benar-benar menyiksa untuk disaksikan bahkan dari babak pembukaan. Akting dari Zayn al-Rafeea, aktor non profesional yang diambil langsung dari jalanan, memberikan performa akting yang luar biasa menakjubkan, ditambah lankap perkotaan yang kumuh dan scoring yang sorrowful menjadikan film ini lebih menyayat hati. A heartbreaking and devastating cinema!!! Submitted by Ali Zaky (17), anak SMA yang sok-sokan nonton film aneh-aneh. Instagram: @ali_zaky23. Letterbox: alzak23. Director fav: Yorgos Lanthimos. 

#4

One Day 

(Lone Scherfig, 2011)


One Day berpusat pada dua karakter utama, Emma (Anne Hathaway) dan Dexter (Jim Sturgess). Bercerita tentang perjalanan kisah hidup mereka selama hampir belasan tahun. Hubungan persahabatan keduanya, karir, dan tentunya: cinta. Mereka juga berkomitmen bertemu setiap tanggal 15 Juli. Moment to cry nya sih pasti sudah bisa ditebak... (SPOILER) saat salah satu dari karakter utama meninggal, di momen dimana cinta mereka akhirnya bersatu setelah terombang-ambing sepanjang film. Satu scene kehilangannya ini dieksekusi dengan baik, simple, tapi kena banget. Di akhir film juga ada scene flashback ke awal film.yang cukup membuat saya sedih sekaligus bahagia. Scene yang menggambarkan kenapa dua karakter utama tadi mampu awet berteman hingga belasan tahun. Submitted by Deki (40). Instagram: @dqmacateti. Moviefreak yang anti film horror. Director fav: Christoper Nolan.

#5
Like Father, Like Son
(Hirokazu Kore-eda, 2013)


Like Father, Like Son membuktikan bahwa kisah "putri yang tertukar" jika ditangani dengan benar bisa menjadi drama keluarga yang bagus dan menghanyutkan. Ada banyak momen heartbreaking yang sanggup membuat saya meneteskan air mata. Kecerdasan sang sutradara dalam menangani aktor-aktor ciliknya juga membuat adegan demi adegan dimainkan cukup luwes meskipun agak sedikit lambat. Performa dari para aktor dan aktrisnya pun perlu diacungi jempol terutama Machiko Ono yang bisa membuat hati para lelaki tidak tahan untuk tidak memeluknya melihat ia menahan kesakitan batin sebagai seorang Ibu. Film ini juga menjadi potret nyata dalam berkeluarga jika seorang anak itu, baik laki atau perempuan, akan mengikuti figur ayah dan ibunya. Submitted by Ahmad Nur (28). Instagram @ahmad.nur92. Just a casual movie lovers... Hampir semua genre film dilahap tapi prefer classic or related with James Bond. Director fav: Usmar Ismail. 

#6
Mommy

(Xavier Dolan, 2014)



Mommy (2014)-nya Xavier Dolan merupakan cerita sederhana tentang ibu-anak yg harus struggling di tengah pahit manis kehidupan. Ditangkap dengan pendekatan unik khas Dolan yang nyata, jujur, dan penuh emosi, juga punya penampilan yang kuat dari setiap aktornya. Dan oh.. fantasy-sequence menuju ending yang dikemas dalam alunan musik kaya rasa dari Ludovico Eulinaudi dgn permainan teknis kamera yang melibatkan motion-blur ama extreme-zoom itu luar biasa efektif ngedongkrak air mata. Barangkali 6 menit paling indah, menawan, sekaligus meremukkan hati dalam film yang pernah gua tonton. Submitted by Arif (17). Instagram @aarif.kurniawan. Paling suka film thriller, ngefans ama Coen Bros, tapi film favorit nya La La Land.

#7

Interstellar

(Christoper Nolan, 2014)


Dari sekian banyak momen mengharukan yang terdapat dalam film Interstellar, adegan "Message from Home" adalah yang paling membuat saya meneteskan air mata. Alasannya tentu saja karena kuatnya hubungan ayah dan anak, terutama antara Cooper (Matthew McCounaghey) dan Murph (Mackenzie Foy/Jessica Chastain), yang telah terjalin sejak awal film. Sangat menyedihkan melihat Cooper berderai air mata melihat rekaman video anak-anaknya yang telah beranjak dewasa menceritakan kehidupan mereka di bumi selama 23 tahun. Banyak hal bahagia hingga sedih telah mereka lalui tanpa kehadiran sosok seorang ayah yang berkelana ke luar angkasa dan menjadi korban dilatasi waktu. Kerinduan seorang ayah terhadap anak-anaknya, siapa yang tidak menangis menyaksikan ini? Submitted by Anton Rizky Hamdani (24). Instagram @antonrizkyhamdaniIntrovert stadium akhir yang doyan nonton film, baca buku, mempelajari astronomi dan teori-teori aneh lainnya. Director fav: Christoper Nolan.

#8

Shoplifters

(Hirokozu Kore-eda, 2018)


Memenangkan Palm d'Or di ajang Cannes tahun 2018, Shoplifters bercerita tentang sebuah keluarga non-biologis yang bertahan di tengah kemiskinan. Film ini membuatku merenungi kembali tentang makna keluarga sejati dari sudut pandang lain. Yang membuatku menangis adalah saat mengetahui bahwa kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga yang tampak di film ini justru didapatkan dari keluarga yang 'berbeda', bahwa makna keluarga lepas dari sekat-sekat ikatan biologis semata. Submitted by Kiel (28). Tergila-gila dengan karya seni yang bernama film dan menggemari segala jenis genre film. Director fav: Martin Scorsese. Youtube: Kiel Jofe.

#9

Posesif

(Edwin, 2017)

Sebagai seseorang yang suka nonton film, ada satu film drama asal Indonesia yang saya jadikan favorit. Film tersebut adalah Posesif dari Palari Films arahan Edwin. Dibintangi oleh Adipati Dolken sekaligus menjadi debut Putri Marino dimana keduanya menjadi sepasang kekasih, film ini mengangkat isu mengenai toxic relationship yang mungkin bisa dialami oleh sebagian orang, terutama remaja di Indonesia. Yang membuat saya menyukai film ini adalah isu toxic relationship-nya yang sangat luas, sehingga membuat saya merasa miris dan tidak bisa menyepelekannya begitu saja. Submitted by Galih Dea Pratama (24). Lifestyle content creator yang suka nonton film horror dan thriller. Facebook: galih.dpratama. Twitter: @galih_dea. Instagram: galihdea. Linkedin: Galih-Dea-Pratama. Director fav: Martin Scorsese.

#10

Train to Busan

(Yeon Sang-ho, 2016)


Alih-alih merasakan kehororan teror zombie, menonton Train To Busan (2016) entah mengapa justru membuat saya menitikkan air mata akan keharuan cerita. Memang harus diakui bahwa dalam hal drama, film Korea selalu membuatnya dengan sepenuh hati. Semula saya menduga bahwa kisah ini akan fokus pada aksi ribuan zombie yang menyerbu kereta tanpa drama yang kental, namun ketika merasakan chemistry yang dibangun karakter ayah-anak Seok-Woo (Gong Yoo) dan Soo-an (Kim Su-an), tentu saja tissue selalu tersedia. Walaupun belum terbangun hubungan kuat pada awal film, namun seiring ketegangan cerita, cara Woo memeluk, menggandeng, menggendong dan berbicara dengan anak gadisnya sangat dramatis. (SPOILER) Emosi pun memuncak pada saat momen Soo-an kehilangan sang ayah dengan tatap matanya yang nanar. Sutradara Yeon Sang-ho memang tidak memihak penonton kala memilih mengakhirinya dengan sad-ending, namun itulah yang menjadikannya ending terbaik dalam film zombie. Menangis sejadi-jadinya bukan cara yang buruk untuk menikmati film ini. Submitted by Rangga Mahendra (42). Instagram @inplusic. Penikmat film. Director fav: M. Night Shymalan. 

#11
20th Century Women

(Mike Mills, 2016)



Menonton film ini memang membuat menangis, tapi bukan karena kesedihan yang dirasakan. Namun karena sungguh hangatnya hubungan antara ibu dan anak yang diperankan oleh Annette Benning dan Lucas Jade Zumann.. Dengan pautan usia yang sangat jauh di antara kedunya ( 0-an dan 16 tahun), membuat seolah-olah ada jarak yang menghalangi mereka. Si anak mulai memberontak dengan lingkungannya, sementara ibunya mencoba merasakan apa yang dialami oleh anak. Sebenarnya film ini tak melulu tentang hubungan anak dan ibu, ada banyak yang bisa dilihat dari film ini:  perubahan budaya, youngster rebellion, a slight look at feminism, dreams, love, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling ngena buat saya memang hubungan ibu dan anak di film ini. Satu lagi, film ini mengingatkanku tentang how it feels to be alive. Submitted by Fatan Robbani (18). Instagram @fatanrobbani. Anak SMA yang masih bingung mau masuk universitas apa dan malah lebih giat nonton dan mikirin film. Director fac: Charlie Kaufman. 

#12
17 Again
(Burr Steers, 2009)


Adalah Mike (Matthew Perry), yang tengah galau karena pernikahannya dengan Scarlet (Leslie Mann) memasuki babak perceraian. Lalu tiba-tiba ia diberikan kesempatan oleh alam semesta untuk memperbaiki apa yang salah di sepanjang hidupnya, dengan kembali berumur 17 tahun (diperankan Zac Efron). Adengan yang membuat aku sedih adalah adegan di ruang sidang perceraian,. ketika Mike mulai merinci momen berjumpa pertama kali dengan Scarlet. Ia memaparkan kenangan-kenangan yang pernah mereka jalani, berusaha meyakinkan Scarlet bahwa ia masih Mike yang sama. Aku rasa film ini mengantarkan kita pada kesadaran akan dampak setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup. Yakin tidak penasaran untuk nonton? Submitted by Thoriq Nazar. Instagram @thoriqnazar. Mengibaratkan film dengan makanan: genre mystery, action dan sci-fi adalah camilan favorit, menu pokoknya tetap biopik. Director fav: Christoper Nolan.

#13
Duckweed
(Han Han, 2017)


Duckweed adalah film drama yang dibintangi oleh Chao Deng, dirilis tahun 2017. Bagian yang buat aku sesenggukan terdapat di bagian akhir film. Dimulai dari sang karakter utama mengalami koma lalu bermimpi ke masa lalu. Dan di situ mulai diceritakan masa lalu ayahnya. Aku mulai banjir air mata saat diketahui sang ibu aktor utama meninggal bunuh diri karena tidak kuat akan kehidupan yang menimpa keluarganya.  Submitted by Yuniar Indarto. Instagram @gila_outing. Menganggap dirinya seseorang yang biasa saja. Director fav: John Woo.

#14
Manchester by the Sea
(Kenneth Lonergan, 2016)


Manchester by the Sea bercerita tentang seorang pria yang harus kembali ke kota asalnya untuk merawat keponakan lelakinya setelah ayah sang keponakan tersebut meninggal. Bagi saya, film Manchester by the Sea benar-benar menggambarkan keadaan lelaki yang sudah hancur benar. Akting dari Casey Affleck sangat baik, membuat saya pribadi benar-benar merasakan apa yang dirasakan karakter yang diperankannya, Lee, dalam film itu. Seperti sudah tidak peduli lagi dengan dunia, tapi berusaha untuk tetap hidup. Emosi yang tampaknya terlihat tenang, tapi sebenarnya tidak. Mungkin seperti itulah kesedihan bagi sebagian besar laki-laki: kesedihan yang dihayati dalam diam. Submitted by Abbi Masta (22). Instagram: @abbimasta50. Kecintaan terhadap film bermula dari menemukan DVD player tua di gudang dan menonton DVD bajakan Black Hawk Down saat masih SMP. Director fav: Guy Ritchie.